Gema Wahyu Ilahi di Balik Jeruji: WBP Lapas Bagansiapiapi Unjuk Kebolehan dalam Lomba Keagamaan
Suasana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi, Selasa (3/3/2026), berubah khidmat saat rangkaian perlombaan keagamaan
Hukum
Namanya Pak Anton. Usianya 43 tahun. Wajahnya ramah, senyumnya tipis namun tulus-senyum yang tak pernah benar-benar hilang, meski hidup acap kali mengetuk dengan getir.
Setiap pagi, pria paruh baya ini menyalakan mesin becaknya-sebuah kendaraan modifikasi yang ia rakit sendiri dari motor tua, diberi atap seadanya untuk melindungi penumpang dari panas dan hujan. Bukan kendaraan yang nyaman, apalagi mewah, namun cukup untuk mengantar harapan dari satu titik ke titik lain.
“Saya nggak punya ijazah tinggi, tapi saya punya kemauan,” ujarnya sambil membetulkan topi lusuh yang seperti sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
Dulu, Pak Anton sempat bekerja serabutan. Namun hidup membawanya pada pilihan menjadi tukang ojek becak motor. Baginya, profesi ini bukan sekadar sumber nafkah, melainkan jembatan untuk lebih dekat dengan masyarakat, dengan cerita, dan dengan manusia itu sendiri.
Hampir setiap hari, ia mengantar ibu-ibu ke pasar, anak-anak ke sekolah, hingga karyawan yang terburu-buru mengejar waktu. Mereka bukan sekadar penumpang.
“Mereka sudah seperti keluarga,” katanya dengan bangga.
Ia tahu nama-nama mereka, hafal tawa mereka, bahkan sesekali menjadi pendengar setia untuk curhat singkat sepanjang perjalanan.
Becak Tua, Cerita Tak Pernah Usang
Pak Anton tak hanya hafal jalur kota, tapi juga menyimpan kenangan pada setiap sudut jalan. Di mana ia pernah mogok, tempat biasa ia beli gorengan murah, atau sudut sepi yang dulu jadi tempat berteduh. “Kalau becak ini bisa ngomong, pasti sudah bisa nulis buku,” candanya.
Namun roda hidup tak selalu mulus. Suatu hari, mesin becaknya rusak parah. Ia sempat bingung, bahkan nyaris menyerah. Tapi harapan datang dalam bentuk yang tak disangka: para penumpang setia menggalang dana seadanya. Hasilnya cukup untuk memperbaiki becak dan mengembalikan mata pencahariannya.
“Saya terharu. Ternyata yang saya anggap penumpang, mereka anggap saya teman,” ucapnya pelan, nyaris berbisik.
Di tengah hiruk-pikuk zaman digital dan transportasi modern yang bisa dipesan lewat aplikasi, Pak Anton tetap setia dengan becak motornya. Ia tak menuntut kemewahan. Bagi dia, harapan cukup hadir dalam bentuk kendaraan tua yang setia menemaninya menyusuri hari.
Dalam setiap deru mesin dan gemuruh jalanan, Pak Anton menyampaikan pesan sederhana: bahwa dalam hidup, kejujuran dan ketekunan adalah kemewahan sejati.(jns)
Suasana Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi, Selasa (3/3/2026), berubah khidmat saat rangkaian perlombaan keagamaan
Hukum
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi resmi membuka kegiatan pesantren kilat bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Hukum
Kantor berita Iran, Tasnim News Agency dan Fars News Agency, melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meninggal
Peristiwa
Kebijakan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas yang menerbitkan surat edaran tentang penataan penjualan daging babi di seluruh wilayah
Hukum
Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Bagansiapiapi, Agus Imam Taufik, melakukan kunjungan silaturahmi ke kediaman Bupati Rokan Hilir
Hukum
Dua kader PDI Perjuangan (PDIP) Kota Medan, Hasyim SE dan Wong Chun Sen Tarigan, menyampaikan pandangan berbeda terkait Surat Edaran (SE)
Politik
Aliansi massa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Wali Kota Medan,Kamis (26/2/2026), menolak surat edaran Pemerintah Kota (Pemko)
Peristiwa
Produk minuman Rowbin Cafe yang dikelola warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bagansiapiapi resmi menerima sertifikat halal
Hukum
Surat edaran Wali Kota Medan yang melarang penjualan daging babi di bahu jalan menuai reaksi dari masyarakat. Pemerintah Kota (Pemko) Medan
Peristiwa
Komisi X DPR RI menyoroti dugaan kekerasan yang dilakukan oknum anggota Brimob Polri hingga menyebabkan meninggalnya seorang siswa di Kota
Politik