Sabtu, 22 Agustus 2026

SMSI Sumut Apresiasi Riset UMA-UISU, Dorong SEO Masuk Kompetensi Wartawan Media Siber

admin - Sabtu, 22 Agustus 2026 20:15 WIB
SMSI Sumut Apresiasi Riset UMA-UISU, Dorong SEO Masuk Kompetensi Wartawan Media Siber
Ketua SMSI Sumut Erris Julietta Napitupulu saat menghadiri Workshop Desain Model UKW Khusus Media Siber yang digelar di Grand Sakura Hotel, Medan, Sabtu (22/8/2026).

JELAJAHNEWS.ID - Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumatera Utara, Erris Julietta Napitupulu, mengapresiasi tim riset Universitas Medan Area (UMA) dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang mengembangkan desain model Uji Kompetensi Wartawan (UKW) khusus media siber.

Model tersebut dinilai relevan dengan perkembangan industri pers digital yang menuntut wartawan memahami Search Engine Optimization (SEO) atau optimasi mesin pencari, tanpa mengabaikan etika dan hukum pers.

Menurutnya, SMSI Sumut mendukung penelitian tersebut dengan melibatkan pengurus dan anggota SMSI dari berbagai daerah di Sumatera Utara.

Baca Juga:
"Kami SMSI Sumut mendukung penelitian ini dengan hadirnya SMSI dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Kami sampaikan apresiasi kepada tim peneliti bahwa ini pertama dilakukan di Sumatera Utara, di mana tentunya SMSI mempunyai peran strategis dalam mengimplementasikan SEO untuk peningkatan keterampilan wartawan," kata Erris saat menghadiri Workshop Desain Model UKW Khusus Media Siber di Grand Sakura Hotel, Medan, Sabtu (22/8/2026).

Ia menilai perkembangan media siber telah mengubah kebutuhan kompetensi wartawan. Seorang wartawan tidak hanya dituntut mampu menghasilkan berita secara cepat, akurat, dan memenuhi kaidah jurnalistik, tetapi juga perlu memahami bagaimana produk jurnalistik dapat ditemukan oleh pembaca melalui mesin pencari.

Karena itu, pemahaman mengenai SEO dan perkembangan algoritma mesin pencari dinilai semakin penting. Namun, Erris menegaskan penerapan teknik tersebut tidak boleh mengorbankan prinsip dasar jurnalistik, seperti akurasi, keberimbangan, etika, serta kepatuhan terhadap hukum pers.

Menurutnya, peran organisasi perusahaan pers juga penting dalam merumuskan model kompetensi yang sesuai dengan kondisi industri media siber. SMSI, kata Erris, memiliki ekosistem yang cukup luas untuk memberikan gambaran mengenai kebutuhan media digital di lapangan.

Ia menyebut SMSI hingga saat ini telah memperoleh tiga rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Salah satunya terkait kecepatan, daya sebar, dan jumlah media siber yang memuat opini berjudul "Mendambakan Keadilan Sosial", yang melibatkan 571 media dalam waktu 7,5 jam.

Selain itu, SMSI juga disebut sebagai organisasi perusahaan pers siber dengan jumlah anggota terbanyak di dunia, dengan sekitar 3.500 anggota yang tersebar di 34 provinsi.

SMSI juga baru-baru ini menerima penghargaan atas pelaksanaan aksi donor darah serentak di 33 provinsi dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 SMSI. Kegiatan tersebut diberitakan oleh sekitar 1.300 media daring.

"Atas capaian tersebut, SMSI tentunya tidak sekadar sebagai sampel penelitian seperti yang dilakukan tim riset saat ini, tetapi berperan penting dalam ikut serta merumuskan desain model implementasi SEO yang diwujudkan dalam produk jurnalistik, tidak hanya memperoleh profit tetapi juga memperhatikan etika dan hukum pers," ujar Erris.

Penelitian yang dibahas dalam workshop tersebut berjudul "Implementasi SEO untuk Peningkatan Keterampilan Wartawan Menghasilkan Produk Jurnalistik dengan Konten Etika dan Hukum Pers untuk Keberlanjutan Media Siber."

Tim penelitian dipimpin Dr. Dedi Sahputra dari UMA. Tim tersebut beranggotakan Dr. Zakaria Siregar dari UISU dan Dr. Fauji Wikanda dari UMA.

Dalam pemaparannya, Dedi Sahputra menjelaskan perkembangan algoritma Google yang dinamis membuat wartawan dan pengelola media siber perlu memahami teknik pengemasan berita yang sesuai dengan karakteristik mesin pencari.

Menurutnya, kualitas penulisan jurnalistik tetap menjadi hal utama. Namun, berita juga perlu dikemas agar mudah ditemukan melalui mesin pencari tanpa mengesampingkan prinsip jurnalistik.

"Sistem algoritma di Google sangat dinamis sehingga memerlukan teknis khusus dalam mengemas produk jurnalistik yang ramah mesin pencarian atau SEO friendly," jelas Dedi.

Ia menyebut pertumbuhan media siber di Indonesia juga menghadirkan tantangan dalam keberlanjutan ekonomi dan persaingan memperoleh kunjungan pembaca. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat lebih dari 51.000 media siber, sementara jumlah wartawan tersertifikasi mencapai 16.245 orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 9.409 wartawan tersertifikasi berasal dari media siber.

Dedi juga menyoroti belum adanya porsi khusus pengujian SEO dalam UKW. Menurutnya, aspek SEO dan literasi algoritmik perlu mendapat perhatian seiring perubahan pola produksi dan distribusi berita.

"0 persen ujian SEO di UKW karena modul UKW PWI saat ini mengabaikan uji spesifik mengenai SEO dan literasi algoritmik," ungkapnya.

Tim riset mendorong agar kompetensi SEO dapat menjadi bagian dari materi uji formal dengan tingkatan yang disesuaikan dengan jenjang kewartawanan. Wartawan muda diarahkan pada kemampuan eksekusi, wartawan madya pada kemampuan strategi, sedangkan wartawan utama pada kemampuan penyusunan kebijakan.

Meski demikian, kemampuan teknis SEO tidak boleh menggeser kewajiban wartawan untuk melakukan verifikasi dan menjaga akurasi serta keberimbangan informasi. Penggunaan kata kunci, optimasi judul, struktur berita, metadata, dan tautan internal harus tetap berjalan seiring dengan etika jurnalistik dan pemahaman hukum pers.

Melalui desain UKW khusus media siber, kompetensi wartawan diharapkan semakin sesuai dengan kebutuhan industri pers digital.

Bagi SMSI Sumut, keterlibatan organisasi perusahaan pers dalam riset tersebut juga penting agar model yang dirumuskan dapat diterapkan secara realistis di lapangan dan menghasilkan wartawan yang mampu meningkatkan jangkauan berita tanpa mengorbankan kualitas serta kredibilitas jurnalistik.

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru