Menurut Bobby, peningkatan partisipasi perempuan di sektor publik menjadi penting mengingat jumlah perempuan di Sumut mencapai hampir setengah dari total populasi. Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah penduduk Sumut saat ini mencapai 15,7 juta jiwa, dengan perempuan sebanyak 7,8 juta jiwa atau sekitar 49 persen. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5,8 juta perempuan berada pada usia produktif.
"Jumlah penduduk Sumatera Utara ada 15,7 juta jiwa, dengan jumlah perempuan sebanyak 7,8 juta jiwa atau 49 persen. Dari jumlah itu, 5,8 juta berada dalam usia produktif. Ini yang akan menjadi penerus kepemimpinan di Sumut," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa saat ini hanya Kabupaten Labuhanbatu yang dipimpin oleh kepala daerah perempuan. Meski demikian, beberapa daerah telah memiliki wakil kepala daerah perempuan yang dinilai dapat menjadi modal penting untuk meningkatkan representasi perempuan dalam pemerintahan.
Melalui seminar dan berbagai program pemberdayaan yang berkelanjutan, Bobby berharap lahir lebih banyak pemimpin perempuan dari Sumut yang mampu berkiprah hingga tingkat nasional.
"Makanya saya menekankan agar keterlibatan perempuan di ruang publik dan rumah tangga masih banyak yang belum selaras, dan seakan ada pembatas antara kedua peran tersebut. Ini yang perlu kita pecahkan, dan tidak perlu takut. Sehingga seorang perempuan bisa menjadi ibu rumah tangga, sekaligus beraktivitas di ruang publik," tegasnya.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi mengingatkan pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak. Ia mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 35.131 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia, dengan jumlah korban mencapai 37.372 orang. Dari angka tersebut, lebih dari 30 ribu korban merupakan perempuan.