JELAJAHNEWS.ID - Di tengah perlambatan ekonomi, minat masyarakat terhadap produk
kecantikan tetap tinggi. Survei terbaru yang dilakukan Jakpat sepanjang 2024 menunjukkan bahwa preferensi terhadap produk makeup, skincare, dan bodycare di Indonesia masih kuat, terutama di kalangan Gen Z, Milenial, dan Gen X.
Dari 5.000 responden yang disurvei, data menunjukkan bahwa konsumen lebih mementingkan kecocokan produk dengan kulit, hasil akhir yang memuaskan, dan kandungan bahan, dibandingkan harga atau promosi.
Makeup: Tinted Sunscreen dan Cushion Merajai
Di kategori makeup, tinted sunscreen menjadi produk terfavorit dengan tingkat penggunaan 37%, diikuti cushion (36%) dan BB/CC cream (30%). Responden perempuan yang dilibatkan sebanyak 1.058 orang. Sebagian besar pembelian dilakukan secara online melalui e-commerce (85%), meskipun toko kosmetik lokal juga masih diminati (55%).
Skincare: Vitamin C dan Klaim Halal Jadi Andalan
Vitamin C mendominasi sebagai kandungan skincare pilihan dengan 50% responden menggunakannya. Niacinamide (47%) dan vitamin E (46%) juga populer. Produk skincare yang paling banyak digunakan adalah pembersih wajah (72%), sunscreen (64%), dan pelembap (52%).
Menariknya, 75% perempuan menggunakan sunscreen, sementara hanya 42% pria yang melakukannya. Tiga dari empat responden menilai klaim halal penting dalam produk skincare, disusul label bebas alkohol (62%) dan lulus uji dermatologi (52%).
Bodycare: Sabun Cair Unggul, Gen Z Suka Belanja Online
Sabun cair menjadi pilihan utama bagi 70% responden dalam kategori bodycare. Faktor aroma, kemudahan penggunaan, dan kepraktisan jadi alasan utama. Sebagian besar konsumen membelinya di supermarket atau minimarket (75%), meskipun Shopee juga menjadi alternatif favorit, terutama di kalangan Gen Z.
Fenomena Lipstick Effect
Head of Research Jakpat, Aska Primardi, mengungkapkan bahwa daya beli produk kecantikan tetap bertahan karena konsumen mencari nilai emosional dari pembelian. “Kita melihat fenomena lipstick effect, di mana konsumen tetap membeli produk yang memberi rasa puas atau kebahagiaan instan, termasuk produk kecantikan,” ujarnya.
Survei ini menunjukkan bahwa industri kecantikan tak hanya bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi, tetapi juga terus berkembang mengikuti tuntutan konsumen terhadap keberlanjutan, kandungan alami, dan kualitas produk.(jn/**)