Rabu, 03 Juni 2026

Wagub Sumut Dorong Industri Sawit Berkelanjutan, Tekankan Peran Riset dan Inovasi

admin - Selasa, 19 Mei 2026 10:51 WIB
Wagub Sumut Dorong Industri Sawit Berkelanjutan, Tekankan Peran Riset dan Inovasi
Surya saat membuka Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 di Hotel Adimulia, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 8, Medan, Selasa (19/5/2026).

JELAJAHNEWS.ID -Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Surya menegaskan bahwa masa depan industri kelapa sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan produktivitas, tetapi juga oleh komitmen terhadap kelestarian lingkungan serta kesejahteraan masyarakat. Karena itu, riset, inovasi, teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dinilai menjadi faktor penting untuk memperkuat daya saing industri sawit di tengah tantangan global.

Hal tersebut disampaikan Surya saat membuka Socfindo Conference on Practical Application & Exhibition (Scopex) 2026 di Hotel Adimulia, Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 8, Medan, Selasa (19/5/2026).

Dalam sambutannya, Surya mengapresiasi penyelenggaraan konferensi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di sektor perkebunan kelapa sawit. Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang penting untuk bertukar pengetahuan, memperkuat kolaborasi, dan menghasilkan solusi konkret bagi pengembangan industri sawit yang berkelanjutan.

Baca Juga:
Ia menekankan bahwa hasil penelitian dan inovasi yang dihasilkan oleh para akademisi, peneliti, maupun praktisi tidak boleh berhenti sebagai konsep atau wacana semata. Berbagai temuan tersebut harus dapat diterapkan secara langsung untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan petani.

"Tidak boleh berhenti di laboratorium atau ruang diskusi saja, tetapi harus mampu diterapkan secara nyata, membantu petani, meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, memperkuat daya saing, serta menjaga keberlangsungan lingkungan hidup," ujar Surya.

Menurutnya, industri sawit saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari tuntutan pasar global terhadap produk yang berkelanjutan hingga isu lingkungan yang menjadi perhatian dunia internasional. Oleh karena itu, seluruh pelaku industri perlu memperkuat sinergi untuk memastikan sektor sawit tetap menjadi salah satu pilar ekonomi nasional tanpa mengabaikan aspek sosial dan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Surya juga berbagi pengalaman pribadi yang memiliki kedekatan dengan dunia perkebunan. Ia mengenang masa kecilnya yang tumbuh di kawasan perkebunan kelapa sawit di Pulau Raja, Kabupaten Asahan.

Menurut Surya, Pulau Raja memiliki nilai sejarah penting karena menjadi salah satu lokasi awal penanaman kelapa sawit di Sumatera Utara oleh perusahaan asal Jerman dan Belgia.

Ia menceritakan bagaimana budaya dan kehidupan sosial di lingkungan perkebunan pada masa lalu berbeda dengan kondisi saat ini. Pada masa itu, hubungan antara perusahaan dan masyarakat masih dibatasi oleh sekat-sekat sosial yang cukup kuat.

"Saya masih ingat waktu SD kami disuruh hormati pohon kelapa sawit pertama, bahkan kami disuruh izin kalau lewat di depannya, 'Misi Mbah'. Dulu kasta sosial di masyarakat juga sangat kental. Staf tidak boleh bertemu manajer, kalau orang perusahaan pesta kami tidak boleh lewat. Tetapi sekarang jauh berubah, semua semakin baik, tidak ada batas antara masyarakat dan perusahaan. Itulah perubahan positif yang terus kita harapkan," katanya.

Surya menilai perubahan tersebut menunjukkan semakin baiknya hubungan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat sekitar. Menurutnya, kemajuan industri sawit harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan terciptanya hubungan yang harmonis antara seluruh pemangku kepentingan.

"Kita sebagai pemangku kepentingan, hal yang utama adalah kesejahteraan rakyat. Perusahaan juga punya tanggung jawab itu, bersama pemerintah menjaga lingkungan," tegasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Scopex 2026, Indra Syahputra, mengatakan Sumatera Utara masih menjadi salah satu daerah penghasil kelapa sawit utama di Indonesia. Produksi sawit di provinsi tersebut saat ini mencapai sekitar 2 juta ton per tahun.

Ia menjelaskan bahwa produktivitas perkebunan perusahaan rata-rata mencapai 3,6 ton per hektare, sedangkan produktivitas petani berada pada kisaran 2,5 ton per hektare.

"Bila kita ingin meningkatkan produksi kelapa sawit tanpa menambah lahan, kita harus menggunakan bibit yang benar, tanam di tempat yang benar, dan mengelola dengan benar. Oleh karena itu, kita ada di sini untuk berdiskusi dan menemukan solusi bagi tantangan perkebunan sawit saat ini," kata Indra.

Editor
: editor
SHARE:
 
Tags
 
Komentar
 
Berita Terbaru